
Begitu pula musik. Pada usia di bawah enam tahun, Ibnu Sina berpendapat, anak penting belajar untuk merasakan harmoni dan musik yang sumbang, suara tinggi dan rendah, dan bagaimana semua itu bisa terjadi. Untuk tahap primer usia 6-14 tahun, menurut Ibnu Sina, sampai pada pelajaran Alquran, belajar membaca dan menulis, mempelajari garis besar agama, dan belajar beberapa puisi Arab. Tapi, pakar ini juga tidak mengesampingkan kebutuhan fisik anak untuk bermain dan berolahraga. ''Bila sendi-sendi anak menguat, lidahnya fasih, dan ia siap untuk instruksi, pendengarannya penuh perhatian, ia mulai belajar Alquran, dan dipertunjukkan huruf alfabet dan diajarkan garis besar agama,'' katanya. Anak, menurut dia, diajarkan untuk membawakan syair dan ayat yang puitis, karena lebih mudah diingat. Syair-syair itu menjelaskan perilaku baik dan berisi pelajaran, mencela kemalasan dan kebodohan, mendorong rasa hormat kepada orang tua, perilaku yang bisa diterima, keramahan terahdap tamu, dan standar modal yang tinggi. Ini artinya, puisi yang menurut Ibnu Sina diperkenalkan pada anak-anak usia ini adalah sastra dengan sebuah pesan pendidikan moral. Sebab, di sanalah, menurut dia, sumber kebahagiaan manusia. Begitu anak lewat usia 14 tahun, kata Ibnu Sina, saatnya ia diarahkan untuk penjurusan pada prospek pekerjaannya di masa mendatang. Pendidikan ini bersifat terbuka, berlangsung seumur hidup. ''Begitu ia selesai belajar Alquran dan memahami bahasa, saat itu ia harus melihat pekerjaan yang cocok untuknya, dan ia harus diarahkan ke jalur ini.'' Saat itu, katanya, saat anak memilih: apakah ia ingin jalur teoretis atau teknis dan praktis dalam jalan hidupnya. Jadi ilmuwan atau jadi praktisi. Wassalam....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar